Selasa, 16 April 2013

teologi pembebasan



BAB I
                                                                   PENDAHULUAN

            Sehubungan dengan penulisan makalah ini, maka penulis akan menjelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan : ‘TEOLOGI PEMBEBASAN,’ tetapi sebelumnya penulis akan menjelaskan apa yang menjadi latar belakang dan tujuan dari penulisan makalah ini.
A.    Latar Belakang Penulisan
            Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan secara singkat namun jelas tentang apa yang dimaksud dengan teologi pembebasan. Banyak Orang Percaya yang tidak mengenal bahkan mengatahui apa yang dimaksud dengan teologi pembebasan. Bahkan tampa disadari oleh para pemimpin gereja dan jemaatnya, mereka telah masuk di dalam sebuah pengajaran yang sepertinya sesuai dengan firman Allah. Karena itu disini penulis akan menjelaskan dengan padat tentang teologi pembebasan tersebut.
B.     Tujuan Penulisan
            Penulisan makalah ini bukanlah hanya semata-mata untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan dalam mata kuliah ini. Tetapi yang terlebih penting dan utama adalah bagaimana membuka wawasan serta memberikan kejelasan kepada para pembaca untuk dapat memahami dengan baik apa yang dimaksud dengan teologi pembebasan itu. Sehingga gereja masa kini yang tetap berpegang teguh terhadap kuasa firman Allah, tidak akan mudah terpengaruh dengan sebuah ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab.

BAB II
TEOLOGI PEMBEBASAN

A.    Sejarah Teologi Pembebasan
Sebagian besar isi Alkitab ditulis untuk menanggapi kondisi jemaat-jemaat asuhan para penulis Kitab. Allah berkarya melalui mereka di tengah zaman dan segala keberadaan zaman dimana mereka berada. Penulis Kitab dipakai Allah untuk menyatakan maksud-Nya untuk menjadi jawaban akan permasalahan yang sedang  dihadapi penerima Kitab tersebut. Hal inilah yang sering disebut dengan konteks (penulisan dan sejarah) di dalam penggalian Alkitab.

1.      Defenisi Teologi Pembebasan

Teologi pembebasan merupakan kata majemuk dari kata teologi dan pembebasan. Secara etimologi telogi berasal dari kata theos yang berarti Tuhan dan logos  yang berarti ilmu. Jadi teologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia dan alam semesta. Sedangkan kata pembebasan merupakan istilah yang muncul sebagai reaksi dari istilah pembangunan yang kemudian menjadi ideology pengembangan ekonomi yang cenderung liberal
Teologi pembebasan adalah sebuah paham akan peranan agama dalam lingkup sosial, yakni pengontekstualisasian ajaran-ajaran dan nilai agama pada masalah konkret yang terjadi disekitarnya. Menurut Michael Lowy yang dimaksud dengan teologi pembebasan adalah
Pantulan pemikiran, sekaligus cerminan dari keadaan nyata, suatu praxis yang sudah ada sebelumnya. Lebih tepatnya, ini adalah pengungkapan atau pengabsahan suatu gerakan sosial yang amat luas, yang muncul pada awal tahun 1960-an, memang sudah ada sebelum penulisan teologi itu sendiri.”[1]

Sedangkan menurut  Eta Linnemann di dalam buku yang dimaksud dengan teologi pembebasan adalah: “teologi yang memperhatikan situasi dan penderitaan orang miskin. Keinginannya tidak lain daripada membela dan memihak kepada hak orang miskin”.[2] Kehadiran teologi pembebasan pada awalnya adalah untuk mengkritisi model pembangunan  yang dilakukan oleh Negara terhadap rakyatnya. Pembangunan yang dilakukan oleh Negara yang didukung oleh intuisi yang kuat, sepert militer dan intuisi agama yang semata-mata melegitimasi kepentingan Negara. Sedangkan menurut salah satu situs internet http://teologipembebasan.com bahwa yang dimaksud dengan teologi pembebasan adalah :
Teologi Pembebasan dapat dirumuskan secara singkat sebagai upaya-upaya untuk merealisasikan pengajaran Alkitab mengenai pembebasan ke dalam praksis, yang tentunya hal ini berlaku di tengah-tengah kondisi dan situasi kemiskinan dan penderitaan rakyat.[3]

Jadi berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Teologi Pembebasan adalah suatu pemikiran teologis yang muncul di Amerika Latin dan negara-negara dunia ketiga yang lain sekaligus merupakan suatu pendekatan baru yang radikal terhadap tugas teologi dimana titik tolaknya mengacu pada pengalaman kaum miskin dan perjuangan mereka untuk kebebasan, dimana Allah juga hadir di dalamnya

2.      Latar belakang Teologi Pembebasan
Konsep-konsep di dalam Teologi Pembebasan tidak langsung muncul
dalam waktu seketika dan pergerakan teologi ini tidak terjadi begitu saja, tetapi ada penyebab-penyebab yang menjadi akar munculnya Teologi Pembebasan. Pertama, pada abad ke-16, seorang uskup berdarah Spanyol, Bartolome de Las Casas, mengadakan perjuangan untuk membela kaum Indian yang menjadi korban penindasan orang-orang Spanyol. Pembelaannya begitu gigih dan mengesankan sehingga para pelopor Teologi Pembebasan belakangan memandangnya sebagai “Musa Teologi Pembebasan Amerika Latin.” Kedua, munculnya peristiwa-peristiwa dan gerakan-gerakan religius serta sekuler pada pertengahan abad ke-20, Grenz, 20th Century 211bahwa:
Seperti Teologi Politik di Eropa dan Teologi Radikal di Amerika Utara yang dicetuskan oleh J. B. Metz, Jurgen Moltmann dan Harvey Cox. Dalam gagasan teologinya, Metz telah meletakkan beberapa dasar pemikiran yang kelak menjadi metode bagi Teologi Pembebasan, khususnya pada peranan politik praksis sebagai titik tolak refleksi teologis.[4]

Ketiga, dihasilkannya dokumen Gaudiumet Spes (1965) oleh Konsili Vatikan II, yang menekankan pertanggungjawaban khusus orang-orang Kristen terhadap mereka yang miskin dan yang dirundung penderitaan. Kemudian muncul apa yang disebut sebagai konferensi para Uskup Amerika Latin (CELAM II) yang menghasilkan dokumen Medellin (1968), yang inti perumusannya berbunyi Demi panggilannya, Amerika Latin akan melaksanakan kebebasannya apapun pengorbanan yang diberikan. Perintah Tuhan yang jelas untuk menginjili orang-orang miskin harus membawa kita kepada distribusi sumber-sumber dan personil apostolis yang secara efektif memberikan pilihan kepada yang paling miskin dan sektor-sektor yang paling membutuhkan.  Keempat, situasi konkret di Amerika Latin, negara-negara di Amerika Latin telah menjadi korban kolonialisme, imperialisme dan kerja sama multinasional. Hal ini terjadi karena adanya ketergantungan ekonomi negara-negara
Amerika Latin kepada Amerika Serikat (khususnya), yang pada akhirnya
banyak merugikan kepentingan Amerika Latin sehingga menimbulkan keresahan-keresahan sosial.
Sejak depresi dunia pada tahun 1930-an, perekonomian negara-negara di Amerika Latin begitu bergantung pada ekspor barang mentah ke Eropa dan Inggris. Sebaliknya, mereka mengimpor komoditas pabrik. Sesudah Perang Dunia II, harga barang-barang mentah jatuh di pasaran dunia. Akibatnya perekonomian negara-negara itu kacau. Mereka juga tak mampu mengimpor barang-barang pabrik. Namun karena mementingkan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi dan telah menciptakan kesenjangan sosial yang begitu tajam. Kaum proletar yaitu kelas buruh yang tumbuh dengan cepat. Inflasi melambung, biaya hidup membubung, ketidakpuasan meluas, situasi politik menjadi tegang dan labil. Kudeta terjadi di mana-mana dan membuahkan pemerintahan diktator, kondisi tersebut mengundang gerakan di berbagai bidang. Begitu juga dibidang keagamaan, kalau selama ini gereja di Amerika latin setia berpandangan teologi Barat (Eropa), yang berkutat hanya pada memahami Tuhan dan iman dan menghimbau agar bertahan mengahadapi penderitaan serta menghibur kaum miskin dan orang tertindas. seperti yang ditulis di dalma sebuah situs internet www.http:// Prasasti Perangin-angin, S.Pd/teologi pembebasan.com bahwa:
Gereja dan dunia tidak bisa lagi dipisahkan. Gereja harus membiarkan dirinya untuk didiami dan diinjili oleh dunia. "Sebuah teologi Gereja di dunia harus dilengkapi dengan teologi dunia dalam Gereja" (Gutierrez). Bergabung dalam solidaritas dengan mereka yang tertindas melawan penindas adalah tindakan "konversi," dan "evangelisasi" adalah mengumumkan partisipasi Allah dalam perjuangan manusia untuk keadilan.[5]

Kemudian pihak geraja melibatkan diri dan berpihak pada rakyat yang tak berdaya. Rakyat harus disadarkan bahwa kemiskinan dan ketebelakangan bukan nasib turunan. Rakyat harus dipintarkan, kemudian geraja mempolopori pembebasan memalui intelektual dengan mendirikan Universitas Javeriana di Bogota, kolumbia (1937), Universitas Katolik di Lima(1942), di Rio de Jeneiro dan Sao Paulo (1947), Porlo Alegre (1950), Campinas dan Quito (1956), Buenos Aires dan Cordoba (1960).
Gerakannya ini justru melebar ke Dunia Ketiga yang memiliki persoalan sama. Misalnya ke beberapa negara Asia yang mayoritas Katolik, seperti Filipina., termasuk juga Indonesia. Menurut http://webserch.teologi pembebasan.com  seorang teolog dari Sri Lanka yaitu Aloysius Pieris, yang mengamati perkembangan teologia di Asia mengatakan :
Teologia Pembebasan mempunyai relevansi bagi Asia yang tidak dipunyai oleh teologia klasik ... di gereja timur, metode baru ini sudah bersaing dengan teologia tradisional, sebagai hasilnya berdirilah EATWOT (The Ecumenical Association of Third World Theologians)”.[6]

Hampir berbarengan dengan itu pada tahun 1970, James Cone, Profesor di Union Theological Seminary menerbitkan A Black Theology of Liberation, Yaitu pemusatan kepada kelompok yang tertindas, dan adanya definisi istilah teologia yang diartikan dalam konteks sosial politik. Pengaruhnya segera meluas dan mendapat sambutan yang hangat oleh negara-negara dunia ketiga. Rasa solidaritas dunia ketiga yang rata-rata merupakan korban penjajahan, kemiskinan yang masih merajalela, sedangkan hasil kemajuan teknologi impor hanya dapat dirasakan oleh sebagian kecil lapisan atas, sehingga jurang antara yang kaya dan miskin semakin nampak. Perkataan seperti pembangunan nasional, kemanusiaan, keadilan, tidak asing lagi.
                                                                                                                
3.      Pendiri Teologi Pembebasan
Teologia Pembebasan ini muncul pertama kalinya di Amerika Latin pada tahun 60-an. Kemudian istilah tersebut menjadi terkenal sebagai sebutan untuk aliran ini setelah terbitnya buku Teologia de la Liberaction' karya teolog Peru, Gustavo Gutierrez. Gustavo Gutiérrez Merino, O.P. (lahir di Peru8 Juni 1928) adalah seorang teolog Peru  yang dianggap sebagai pendiri Teologi Pembebasan. Ia menjabat sebagai Profesor John Cardinal O'Hara dalam bidang Teologi di Universitas Notre Dame. Ia pernah menjadi profesor di Universitas Katolik Kepausan di Peru dan profesor tamu di banyak universitas terkemuka di Amerika Utara dan Eropa.  
Gustavo Gutierrez Merino, O.P adalah anggota Akademi Bahasa Peru, dan pada 1993 dan dianugerahi Legiun Kehormatan oleh pemerintah Perancis untuk karyanya yang tak mengenal lelah. Gutierrez pernah belajar kedokteran dan sastra, psikologi dan filsafat, dan mendapat gelar doktor dari Institut Pastoral d'Etudes Religieuses (IPER), Université Catholique di Lyon. Karya terobosan Gutiérrez, A Theology  of  Liberation: History, Politics, Salvation tahun1971(Suatu Teologi Pembebasan: Sejarah, Politik, Keselamatan”) menjelaskan pemahamannya tentang kemiskinan Kristen sebagai suatu tindakan solidaritas penuh cinta kasih dengan kaum miskin maupun sebagai protes pembebasan melawan kemiskinan.
Menurut http://www.Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.com
pembebasan sejati menurut Gutierrez,  mempunyai tiga dimensi utama:
1.      Mencakup pembebasan politik dan sosial, penghapusan hal-hal yang langsung menyebabkan kemiskinan dan ketidakadilan.
2.      Pembebasan mencakup emansipasi kaum miskin, kaum marjinal, mereka yang terinjak-injak dan tertindas dari segala sesuatu yang membatasi kemampuan mereka untuk mengembangkan diri dengan bebas dan dengan bermartabat.
3.      Teologi pembebasan mencakup pembebasan dari egoisme dan dosa, pembentukan kembali hubungan dengan Allah dan dengan orang-orang lain.
Konteks sosial yang terjadi adalah penindasan, pemiskinan, keterbelakangan, dan penafian harkat manusia. Paham ini tumbuh bersama suburnya sosialisme di Amerika Latin, akhir 1960-an dan awal 1970-an. Teologi Pembebasan merupakan refleksi bersama suatu komunitas terhadap suatu persoalan sosial. Karena itu masyarakat terlibat dalam perenungan-perenungan keagamaan mereka mempertanyakan tanggung jawab agama itu seperti apa

4.      Perkembangan Teologi Pembebasan
Teologi pembebasan berasal dari tahun 1960-an di Amerika Utara dan Selatan, meskipun sudah ada sebelum Perang Dunia II. Teologi pembebasan adalah sebuah paham tentang peranan agama atau gereja dalam ruang lingkup lingkungan sosial. Dengan kata lain teologi pembebasan adalah suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai keagamaan atau nilai-nilai teologis pada masalah kongkret di sekitarnya. Seperti yang ditulis oleh salah satu situs internet http//teologi pembebasan.com bahwa :
Seorang teolog Protestan AS Harvey Cox menyatakan bahwa, untuk agama  mempertahankan vitalitas dalam lingkungan sekuler, refleksi teologis harus sesuai dengan tantangan sosial dan politik konkret dari dunia sekuler modern, masalah-masalah kontemporer seperti rasisme dan kemiskinan harus diperlakukan sebagai masalah teologis dan juga masalah-masalah sosial”[7]
Dalam kasus kelahiran teologi pembebasan masalah kongkret yang dihadapi adalah situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakan rakyat. Teologi pembebasan muncul dari proses panjang transformasi pasca-Pencerahan refleksi teologis Kristen. Pada pertengahan 1970-an banyak teologi pembebasan muncul di Amerika Utara dan Selatan, termasuk teolog Katolik (Leonardo Boff, Mary Daly, Rosemary Radford Ruether, Juan Luis Segundo, Jon Sobrino) dan Protestan (Robert McAfee Brown, James H. Cone) . Setelah itu, pengaruh teologi pembebasan diperluas, terutama mempengaruhi teologis di Afrika dan Asia. Adalah fakta bahwa kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketertindasan, ketidakadilan, dan semacamnya hingga tingkat tertentu masih merupakan realitas keseharian yang mengikat berbagai bangsa terutama pada Negara-negara yang berkembang. https://www.google.com/teologi menuliskan bahwa:
Pelembagaan kekerasan menjadi sebuah fenomena serius, pengabaian terhadap kaum miskin, institusi pengadilan yang tak pernah mendengarkan suara kelompok miskin, hina-dina, dan anak-anak yang kurang gizi berada di mana-mana.  Secara kultural juga berkembang egoisme, individualistik, melemahnya rasa sayang, persuadaraan dan solidaritas”[8]

Teologi pembebasan muncul pertama kali di Eropa pada abad ke-20 dan menjadi studi yang penting bagi agama-agama untuk melihat peran agama untuk membebaskan manusia dari ancaman globalisasi dan membebaskan manusia dari ancaman globalisasi dan menghindarkan manusia dari berbagai macam dosa sosial, serta menawarkan paradigma untuk memperbaiki sistem sosial bagi manusia yang telah dirusak oleh berbagai sistem dan ideologi dari perbuatan manusia sendiri.

B.     Pengajaran Teologi Pembebasan
Teologi Pembebasan sendiri sebenarnya juga memiliki pengajaran yang didasarkan dengan Alkitab. Ada beberapa bagian Alkitab yang sering dipakai oleh penganut Teologi Pembebasan sebagai landasan pengajaran mereka yakni:
  1. Kisah yang tercantum dalam  Kitab Keluaran, tatkala bani Israel berada di tanah Mesir, Tuhan telah mendengarkan jeritan mereka, dan membebaskan mereka dari perbudakan dan penderitaan.
  2. Nyanyian pujian Maria yang terdapat dalam Injil Lukas 1:46-55"... Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan menceraiberaikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa ...."
  3. Nubuat nabi Yesaya tentang pekerjaan Messias: "... untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang yang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Luk 4:18-19).
  4. Penghakiman terakhir yang terdapat dalam Injil Matius 25:31-46, di mana penghakiman Tuhan berdasarkan sikap seseorang terhadap orang-orang yang menderita dan miskin
Tetapi meskipun demikian yang menjadi acuan dari pengajaran teologi pembebasan adalah pengajaran Karl Marx. Seperti yang ditulis oleh https://www.google.com/tokoh-tokoh+teologi+pembebasan Sugendo Galilea tentang empat kecenderungan di dalam Teologi Pembebasan, yaitu: Pertama, menekankan ayat-ayat Alkitab tentang pembebasan dan menerapkan konsep ini ke dalam masyarakat. Kedua, berfokus pada sejarah dan budaya Amerika Latin (khususnya pada konteks sosial) sebagai suatu titik tolak teologi mereka. Ketiga, mengkonfrontasikan perjuangan kelas, ekonomi dan ideologi yang berbeda dengan iman Kristen. Keempat, Teologi Pembebasan lebih merupakan ideologi  yang ada di bawah pengaruh Marxisme[9].
Beberpa pikiran dari teologi pembebasan yang berikut ini sama dengan rumusan Karl Marx yaitu:
Pertama, teologi pembebasan tidak ingin hanya menafsirkan dunia, melainkan mengubah dunia.
Kedua, keadaan masyarakat dianggap sebagai perjuangan kelas.
Ketiga, di dalam teologi pembebasan sama seperti di dalam marxisme, bahwa kelas yang ditindas dibedakan dari kelas yang menindas.
Keempat, sama seperti marxisme bahwa teologi pembebasan berfikir struktur-struktur masyaraka harus dirubah.
Kelima, agama harus dihancurkan demi manusia.

1.      Latar Belakang Karl Makx
Karl Heinrich Marx lahir pada tanggal 5 Mei 1818 di rumah sewaan di Bruckengasse, kota Trier, provinsi Rijn, negara bagian Prusia. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga rabi yang taat beragama, tapi ayahnya mengajak seluruh keluarganya pindah agama Protestan sebagai jalan keluar dari politik diskriminasi terhadap orang-orang Yahudi. Ayahnya bernama Heinrich Heschel Marx, seorang ahli hukum keturunan Yahudi yang memeluk agama Kristen Protestan pada tahun 1824, sedangkan ibunya, Heinritte Presburg,  kelahiran Belanda.
Setelah lulus dari sekolah Gymnasium (setaraf dengan SMU) di Trier, Marx melanjutkan studi di Universitas Bonn (1835) mengambil studi hukum yang ternyata hanya bertahan setahun. Ia pindah ke Berlin (1836) untuk menuntut ilmu filsafat dan sejarah. Selama masa studinya minat terbesar Marx ternyata ilmu filsafat yang kemudian menghantarkan dirinya sebagai filusuf dengan disertasinya berjudul “Perbandingan antara Filsafat Alam Demokritus dan Filsafat Alam Epicurus pada 15 April 1841 di Universitas Jena. Konteks Marx adalah bangunan dasar atau pondasi pokok dalam sejarah atau kehidupan manusia, dimana agama, politik, budaya dan sebagainya dilahirkan dari ekonomi, asumsi dasar Marx adalah ketika manusia menjauh dari ekonomi atau untuk memperkuat kelancaran ekonomi maka manusia akan berpaling atau membentuk struktur yang lain yang mendukunggnya. Artinya agama hanya dijadikan alat sebagai pemenuhan hasrat ekonomi dan ketakutan manusia. Marx menafsirkan agama sebagai candu bagi masyarakat seperti yang ditulis oleh George Ritzer dan Douglas di dalam bukunya bahwa:
Kesukaran agama- agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari kesukaran yang sebenarnya dan protes melawan kesukarann yang sebnarnya. Agama adalah nafas lega makhluk tertindas, hatinya dunia yang tidak punya hati, spirit kondisi yang tanpa spirit. Agama adalah candu masyarakat”[10]

Bagi Marx agama adalah hanya sekedar imajinasi dari ketidak berdayaan manusia terhadap struktur basis. Struktur basis adalah ekonomi yang mencangkup seluruh proses ekonomi baik produksi, konsumsi, persaingan ekonomi, dan sebagainya. Marx mengkritisi filsafat Hegel yang mengatakan bahwa : ‘apa yang berbudi sungguh-sungguh ada, dan apa yang sungguh-sungguh ada adalah berbudi’[11]Roh Absolut yang mengerakkan segala tindakan manusia dan alam semesta, kemudian Marx membalikkannya, dengan mengatakan bahwa manusialah penggerak sejarah sesungguhnya, Roh Absolut hanyalah hasil imajinasi dari ketidak berdayaan manusia di dunia. Seorang penulis Eta Linnerman menuliskan bahwa ‘Marx menafsirkan bahwa masyarakat adalah dasar sejarah dan ekonomi dipandang sebagai dasar kehidupan masyarakat.’[12]  
Agama menurut Marx hanya dijadikan sebagai alat legitimasi penindasan, keotoriterian penguasa dan menjadi alat sebagai pembodohan manusia. Umat Kristen oleh gereja selalu didoktrin akan keindahan surga jika menjalankan penderitaan tersebut dengan sukarela dan tidak melawan rezim yang sedang memimpin. Para pemuka agama memanfaatkan kedudukan yang strategis itu justru untuk melegalkan penindasan dimasa itu. Salah satunya adalah melarang kebebasan berpikir, jika kebebasan berfikir tersebut digunakan sebagai alat untuk melawan penindasan pemerintah para agamawan demi mempertahankan posisinya akan menuduh orang tersebut dengan pemberontak, kafir atau bidah dan sebagainya. Pemikiran Marx ini banyak menginspirasi para tokoh untuk memperjuangkan dan membela rakyat dari segala penindasan. Di Amerika latin misalanya  Gustavo Gutierrez yang merupakan pastur di Amerika latin mencetuskan “Teologi Pembebasan” dimana agama dijadikan alat untuk membebaskan rakyat dari para kapitalis dan kediktaktoran pemerintah.

2.      Pengajaran tentang Allah dalam Teologi Pembebasan
Teologi Pembebasan mengajarkan bahwa Allah yang diberitakan di dalam Alkitab adalah Allah yang membebaskan, Dia adalah Allah yang menhancurkan mitos-mitos dan juga Allah yang campur tangan di dalam setipa sejarah manusia. Menurut  Cochlovius  ‘Dialah Allah yang membebaskan orang budak (Kitab Keluaran), meruntuhkan penguasa-penguasa dan menegakkan orang yang tertindas.’[13] sedangkan menurut Jose Severino bahwa ‘ pengalaman bahwa Allah sebagai pembebas dan pengertian kepercayaan sebagai pengakuan atas kehadirna-Nya itulah pembentukan unsur-unsur yang menyusun teologi pembebasan.’[14] Tetapi Allah yang diterima dan Allah yang yang dimaksudkan oleh teologi pembebasan bukanlah Allah yang mewahyukan Diri-Nya sendiri di dalam firmna-Nya, tetapi allah yang dimaksudkan adalah allah yang mendukung pikiran mereka. Hasil Konferensi para Uskup menyatakan:
Allah dilihat sebagai apa yang dapat berguna untuk mendukung pikiran mereka. Kalaupun Dia diterima, Ia hanya sebagai ‘Allah’ buatan sendiri berdasarkan bagian Alkitab yang dipilih. ‘Dia’ menjadi satu ilah yang mengesankan, memurnikan dan memperdalam nilai-nilai yang tercapai dengan kuasa insani.”[15]

Allah itulah yang diterima dan juga diajarkan oleh teologi pembebasan, meskipun mereka menggunakan Alkitab sebagai landasan dasar dari cara berfikir. Tetapi Allah yang dipercaya bukanlah Allah yang sungguh-sungguh ada di dalam Alkitab itu sendiri melainkan allah yang telah disesuaikan dengan akal manusia.

3.      Pengajaran mengenai Yesus Kristus
Yesus seringkali dipandang sebagai revolusioner, apa yang ditekankan dalam Kristologi pembebasan adalah Yesus historis. Yesus dipahami hanyalah sebagai nabi dan tidak berarti bahwa Ia menyampaikan kepada umat apa yang difirmankan oleh Allah. Melainkan adalah bahwa Yesus menjalankan kritik terhadap masalah-masalah ketidak-adilan di dalam masyrakat. Jadi Kristus yang dipahami oleh teologi pembebasan adalah Kristus sejarah saja yang hanya mendukung pikiran revolusi secara teologi. Pendamaian diartikan hanya sebagai pembebasan rakyat yang tertindas secara politis. Yesus ditafsirkan sebagai pelaksana rencana Bapa dengan sasaran pendamaian, pendamaian dengan Allah terjadi sebab Yesus membebaskan rakyat yang tertindas dan mecela para penindas. Karena itu Eta Linnemann menuliskan ‘maka teologi pembebasan bukanlah salah satu teologi Kristen, melainkan hanya satu pengajaran sesat yang menyalahgunakan nama Yesus dan semua istilah dari pengajaran Kristen.’[16]

4.      Pengajaran tentang Keselamatan
Menurut Le Roy Teologi pembebasan mengajarkan tentang keselamatan sebagai berikut:
Keselamatan berarti pembebasan dalam bidang politik, pembebasan dari segala macam penindasan yakni yang didefenisikan demikian oleh mereka, yaitu sang manusia menerima kembali kemanusiaan penuh dengan benar, istilah keselamatan diubah bentuknya menjadi pembebasan politik.’[17]

Mereka memandang bahwa keselamatan yang dibawa oleh Kristus adalah perbuatan keselamatan Kristus yang terjadi melalui orang miskin. Melalui merekalah datang keselamatan umat manusia, karena mereka yang membawa sejarah ahli waris kerajaan (Yak 2:5). Bahkan menurut Croatto bahwa :
Bahasa Paulus mengenai pembebasan dari dosa, hukum taurat dan maut mempunyai arti yang melebihi apa yang dikatakan oleh Paulus dalam konteksnya. Apa yang tidak dikatakan dalam perkataan Paulus, harus kita tambahkan sendiri ketika membaca surat Paulus; dengan membebaskan kita juga dalam penindasan ekonomi, politik  dan sosial, Kristus mengabulkan maksud Allah, menciptakan manusia yang bebas dan kreatif, dan bukan para budak.”[18]

Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teologi pembebasan telah salah dalam menafsirkan Alkitab. Mereka menggunakan firman Allah sebagai faktor yang mendukung situasi yang sedang dihadapi mereka. Sehingga kebenaran yang sesungguhnya dari firman Allah tersebut hilang yang kemudian diganti dengan pikiran manusia.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Teologi pembebasan mencoba mengajarkan satu pandangan yang mencoba mengangkat status orang-orang yang tertindas oleh berbagai problem hidup. Masalah hidup seperti ekonomi dan yang lainnya menyebabkan rakyat jelata menderita, yang mana penderitaan tersebut dimanfaatkan oleh segelitir orang untuk semakin mengukuhkan kedudukannya di dalam sebuah badan organisasi termasuk di dalam gereja. Penderitaan tersebut menyebabkan timbulnya kesenjangan sosial, sehingga melahirkan pemberontakan, baik itu secara kongkrit  dan juga secara abstrak. Termasuk di dalamnya adalah dunia teologi Kristen, yang oleh beberapa orang disalah tafsirkan hanya untuk mendukung pembelaan terhadap kondisi yang sedang dihadapi. Bagi teologi pembebasan tidak ada dunia lain selain dunia yang nampak ini, dunia yang dijanjikan oleh Alkitab hanyalah angan-angan belaka, hanyalah impian seperti seseorang yang sedang menghisap candu.
Sebagai orang percaya yang berpegang teguh terhadap firman Allah, kita harus kritis dalam menyingkapi berbagai persoalan hidup, tekhususnya  adalah pengajaran-pengajaran yang berhubungan dengan iman Kristen. Kita dituntut untuk melihat dan berfikir mengenai segala persoalan yang terjadi secara radikal dan universal, tetapi tetap saja semuanya itu harus bercermin kepada Alkitab sebagai dasar utama dalam penggambilan keputusan. 



B.  Kritik dan Saran
Selesai sudah penulisan makalah ini, penulis memberikan ruang bagi para pembaca untuk memberikan kritik dan saran baik secara lisan maupun tulisan secara keseluruhan. Sehingga didalam penulisan karya ilmiah yang akan datang kesalahan yang dialami oleh penulis tidak akan terulang kembali dan akan menjadi lebih baik lagi. Kritik dan saran yang diberikan akan dijadikan motivasi  dan dorongan serta menjadi tolak ukur bagi penulis didalam penulisan karya ilmiah berikutnya. Terimakasih Tuhan Yesus memberkati.
















TEOLOGI PEMBEBASAN




Oleh
HERI
Nim : 2008.143.1




Tugas
Diserahkan Kepada :
Pdt. Dr. Marulak Passaribu., D.Min
Sebagai Bagian dari Tugas Mata Kuliah
TEOLOGI KONTEMPORER







SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA BERITA HIDUP
SURAKARTA
2013
DAFTAR ISI
                                                                                                                        Halaman
Daftar Halaman .......................................................................................                   i
Daftar Isi ..................................................................................................                   ii
BAB    I           PENDAHULUAN ………………………………………....                           1
                           A. Latar Belakang ……………………………………......                1
                           B. TujuanPenulisan …………………………………........                1
BAB    II         TEOLOGI PEMBEBASAN ................................................                2
A.    Sejarah Teologi Pembebasan …………………….......                 2
1.       Defenisi Teologi Pembebasan…………………...                 2
2.       Latar belakang Teologi Pembebasan ....................                 3
3.       Pendiri Teologi Pembebasan .................................                6
                                 4.    Perkembangan Teologi Pembebasan ....................                 8
                           B.  Pengajaran Teologi Pembebasan .................................                 9
                                 1.   Latar Belakang Karl Marx ...................................              11
                                 2.    Pengajaran tentang Allah dalam Teologi Pembebasan       13
                                 3.    Pengajaran mengenai Yesus Kristus ....................              14
                                 4.    Pengajaran tentang Keselamatan ..........................             15
BAB    III        PENUTUP ……………………………………………………         16                               A.            Kesimpulan …………………………………………….       16
                           B.  Kritik dan Saran …………………………………….....           17
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..          iii

                       
DAFTAR PUSTAKA

1.        Alkitab, LAI 2006
2.        Croatto, Jose Severino, Pembebasan dan Kemerdekaan – Garis- Garis     Hermeneutik, hlm. 42

3.        Carr,  Burgess pada sidang Konferensi Gereja-Gereja seluruh Afrika (AACC);  dikutip oleh Le Roy (1980). Hal 190.

4.        Grenz, 20th Century 211, Evangelical Dictionary of Theology (ed. Walter A.
Elwell; Grand Rapids: Baker, 1985). Hal 635.

5.        Gutierrez,  Gustavo, Theologie der Befreiung, hal. 116; dikutip oleh Cochlovius, hal 83-84.

6.        Hasil Konferensi para Uskup dari Amerika Selatan di Medellin 1968. Hal 88.
7.        http://webserch.teologi pembebasan.com 
9.        Hasil Konferensi para Uskup dari Amerika Selatan di Medllin 1968; dikutip oleh Cochlovius. Hlm 99.

10.    http//teologipembebasan.com 
12.    Lowy, Michael, TEOLOGI PEMBEBASAN, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2000). Hlm. 26

13.    Linnerman, Eta, TEOLOGI KONTEMPORER, Ilmu atau Praduga?, (Malang: Institut Injil Indonesia, 1991). Hlm 67.

14.    Prof. DR. Linnemann , Eta, TEOLOGI KONTEMPORER,ILMU ATAU PRADUGA? (Malang: Departemen Literatur Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, 1991). Hlm 181.
15.    Ritzer, George dan Douglas, Sosiological Theory, (New York: McGraw-Hill, 2004). Hlm 74


16.    www.http:// Prasasti Perangin-angin, S.Pd/teologi pembebasan.com















[1] Michael Lowy, TEOLOGI PEMBEBASAN, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2000). Hlm. 26
[2] Prof. DR. Eta Linnemann, TEOLOGI KONTEMPORER,ILMU ATAU PRADUGA? (Malang: Departemen Literatur Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, 1991). Hlm 181.

[4] Grenz, 20th Century 211, Evangelical Dictionary of Theology (ed. Walter A.
Elwell; Grand Rapids: Baker, 1985). Hal 635.
[5] www.http:// Prasasti Perangin-angin, S.Pd/teologi pembebasan.com
[6] http://webserch.teologi pembebasan.com 
[7] http//teologipembebasan.com 
[10] George Ritzer dan Douglas, Sosiological Theory, (New York: McGraw-Hill, 2004). Hlm 74
[11] Eta Linnerman, TEOLOGI KONTEMPORER, Ilmu atau Praduga?, (Malang: Institut Injil Indonesia, 1991). Hlm 67.

[12] Ibid. Hlm 67.
[13] Gustavo Gutierrez, Theologie der Befreiung, hal. 116; dikutip oleh Cochlovius, hal 83-84.

[14] Jose Severino Croatto, Pembebasan dan Kemerdekaan-Grais-garis Hermeneutis, hlm. 42.

[15] Hasil Konferensi para Uskup dari Amerika Selatan di Medellin 1968. Hal 88.
[16] Op.Cit. hlm 185.

[17] Burgess Carr pada sidang Konferensi Gereja-Gereja seluruh Afrika (AACC); dikutip oleh Le Roy (1980). Hal 190.

[18] Hasil Konferensi para Uskup dari Amerika Selatan di Medllin 1968; dikutip oleh Cochlovius. Hlm 99.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar